Senin, 05 Desember 2011

PANCASILA DALAM KONTEKS SEJARAH PERJUANGAN BANGSA INDONESIA

BAB I
PANCASILA DALAM KONTEKS SEJARAH PERJUANGAN
BANGSA INDONESIA

Realitas kehidupan berbangsa dan bernegara sekarang ini tidak lepas dari sejarah masa lalu. Demikian pula terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan Pancasila sebagai dasar negaranya tidak luput dari proses yang panjang tersebut. Sejarah masa lalu, kini dan masa yang akan datang, merupakan kelanjutan yang tidak terpisahkan. Realitas kehidupan sekarang merupakan kelanjutan dari sejarah masa lalu, dan kehidupan yang akan datang merupakan kelanjutan dari kehidupan sekarang.
Masa lalu Bangsa Indonesia yang penuh dengan kepahitan, kesusahan, dan perjuangan yang disertai pengorbanan harta maupun jiwa, merupakan kenyataan yang tidak bisa dipungkiri oleh generasi sekarang. Sejarah suram Bangsa Indonesia merupakan pelajaran yang sangat berharga untuk menuju masa depan yang lebih baik, serta mencapai negara Indonesia baru yang dicita-citakan.
Sebelum melihat proses terbentuknya Bangsa Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan pancasila sebagai dasar Negara, kita perlu mengkaji rangkain sejarah bangsa Indonesia, dalam sejarah terdapat masa yang disebut Masa Kejayaan Nasional dengan adanya kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Majapahit.
Pancasila itu sendiri berawal dari bahasa Sansekerta yang diambil dari kitab Sutasoma oleh Mpu Tantular, sedangkan pada saat itu kerajaan Sriwijaya sebagai pusat perkembangan  agama di Asia Tenggara dan sebagai pusat perkembangan bahasa Sansekerta, sehingga para Biksu dari negeri Cina harus belajar Sansekerta di Sriwijaya terlebih dahulu sebelum belajar agama Buddha di India.

A.  KERAJAAN SRIWIJAYA
Sriwijaya yang berpusat di Jambi dan Palembang sebagai pusat ibu kotanya menjadi simbol kebesaran Sumatra, dan kerajaan besar yang dapat mengimbangi ialah Majapahit di timur. Pada abad ke-20, kedua kerajaan tersebut menjadi referensi oleh kaum Nasionalis untuk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelum kolonialisme Belanda.
Sriwijaya adalah kerajaan Melayu kuno di pulau Sumatra yang banyak berpengaruh di kepulauan Nusantara. Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7, seorang pendeta Tiongkok, I-Tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 selama 6 bulan. Prasasti pertama mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, yaitu Prasasti Kedukan Bukit di Palembang, Sumatra, pada tahun 683. Dalam bahasa Sansekerta, sri berarti "bercahaya" dan wijaya berarti "kemenangan".
Tidak terdapat catatan lebih lanjut mengenai Sriwijaya dalam sejarah Indonesia; masa lalunya yang terlupakan dibentuk kembali oleh sarjana asing. Tidak ada orang Indonesia modern yang mendengar mengenai Sriwijaya sampai tahun 1920-an, ketika sarjana Perancis George Coedès mempublikasikan penemuannya dalam koran berbahasa Belanda dan Indonesia. Coedès menyatakan bahwa referensi Tiongkok terhadap "Sanfoqi", sebelumnya dibaca "Sribhoja", dan prasasti dalam Melayu Kuno merujuk pada kekaisaran yang sama.
Sriwijaya disebut dengan berbagai macam nama. Orang Tionghoa menyebutnya Sanfotsi atau San Fo Qi. Dalam bahasa Sansekerta dan Pali, kerajaan Sriwijaya disebut Yavadesh dan Javadeh. Bangsa Arab menyebutnya Zabag dan Khmer menyebutnya Melayu. Banyaknya nama merupakan alasan lain mengapa Sriwijaya sangat sulit ditemukan.
Dalam pertumbuhannya Sriwijaya berkembang menjadi kerajaan Besar. Hal ini ditunjang oleh beberapa faktor :
1.      Letak Sriwijaya yang strategis, yaitu berada di jalur lalu lintas hubungan dagang India dengan Cina serta pelabuhannya tenang karena terlindung oleh pulau Bangka dari terjangan ombak besar.
2.      Runtuhnya kerajaan Fuhan sebagai kerajaa maritim menguntungkan Sriwijaya karena ia bias berkembang dalam perdagangan di Asia Tenggara.
3.      Majunya pelayaran dan perdagangan India dan CIna memberi Sriwijaya kesempatan untuk berkembang dalam perdagangan di Asia Tenggara.
4.      Memiliki armada laut yang kuat untuk mengamankan lalu lintas pelayaran, perdagangan serta daerah kekuasaanya.
Ketika Sriwijaya dipimpin oleh seorang raja yang bernama Balaputra Dewa, Balaputra Dewa adalah seorang keutrunan Raja Jawa yang mengadakan hubungan baik dengan kerajaan Benggala yang diperintah oleh Dewapala Dewa yang pernah menghadiahkan sebidang tanah untuk pendirian asrama bagi pelajar dari Sriwijaya. Balaputra Dewa membawa Sriwijaya Menjadi kerajaan besar dan sekaligus menjadikan namanya menjadi besar pula. Namun hubungan Sriwijaya dengan India retak karena adanya pertikaian mengenai penguasaan jalur lalulintas perdagangan di Selat Malaka. Setelah Balaputra Dewa Meninggal, Sriwijaya megalami kemunduran.
Faktor-faktor penyebab kemunduran Sriwijaya adalah :
1.      Penganti Balaputra Dewa tidak sekuat Balaputra Dewa dalam hal pemerintahan dan kurang bijaksana dalam menghadapi para pembantunya.
2.      Adanyan serangan Pamalayu dari Singosari di bawah pemerintahan Kartanegara.
3.      Daerah-daerah yang berada di bawah pengaruh Sriwijaya berusaha melepaskan diri, seperti Thai, Ligor serta daerah lain di Semenanjun Malaka.
4.      Adanya usaha Majapahit dalam usaha persatuan Nusantara di bawah panji Majapahit.
B.  KERAJAAN MAJAPAHIT
Pada tahun 1293 berdirilah kerajaan Majapahit yang mancapai keemasannya pada pemerintahan Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada yang dibantu oleh Laksamana Nala dalam memimpin Armadanya untuk menguasai nusantara. Wilayah kekuasaan Majapahit semasa jayanya membentang dari semenanjung Melayu ( Malaysia sekarang ) sampai Irian Barat melalui kalimantan utara dan di anggap sebagai salah satu dari negara terbesar dalam sejarah indonesia.
Pada waktu itu agama Hindu dan Budha hidup berdampingan dengan damai dalam satu keraaan. Empu Prapanca menulis Negarakertagama. Dalam kitab tersebut telah terdapat istilah “Pancasila“. Empu tantular mengarang buku Sutasoma, dan di dalam buku itulah kita jumpai seloka persatuan nasional yaitu “Bhineka Tunggal Ika“ yang berbunyi lengkapnya “Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrua”, artinya walaupun berbeda ,tetap satu jua adanya sebab tidak ada agama yang memiliki Tuhan yang berbeda. Hal ini menunjukan adanya realitas kehidupan agama pada saat itu, yaitu agama Hindu dan Budha. Bahkan salah satu bawahanya kekeuasaanya yaitu Pasai justru telah memeluk agama Islam dan penjelmaan dalam Pancasila yaitru Sila I yaitu “ Ketuhanan Yang Maha Esa”  Dan toleransi positif dalam bidang agama di junjung tinggi semasa bahari yang telah silam.
Sumpah palapa yang di ucapkan oleh Mahapatih Gajah Mada dalam sidang ratu dan Menteri-Menteri dipaseban keprabuan Majapahit pada tahun 1331, yang berisi cita-cita mempersatukan seluruh nusantara  raya sebagai berikut : “Saya  baru akan berhenti berpuasa makan Palapa, jikalau seluruh nusantara bertakluk dibawah kekuasaan Negara, jikalau Gurun, Seran, Tanjung, Haru pahang, Dempo, Bali, Sunda, palembang dan Tumasik telah dikalahkan”. Sebagai penjelmaan dalam Pancasila yaitu sila ke III yaitu “ Persatuan Indonesia “.
Selain dalam hubunganya dengan Negara lain, Raja Hayam Wuruk senantiasa mengadakan hubungan bertetangga dengan baik dengan kerajaan Tiongkok, Ayodya, Champa dan Kamboja. Menurut prasati Brumbung, dalam tahta pemerintahan kerajaan Majapahit terdapat semacam penasehat seperti Rakryan I Hino, I Sirikan dan satu halu yang bertugas  memberikan nasehat kepada Raja, hal ini sebagai nilai-nilai Musyawarah Mufakat yang dilakukan oleh sistem pemerintahan kerajaan Majapahit. Dan sebagai penjelmaan dalam Pancasila yaitu Sila ke IV yaitu “Kerakyatan yang di Pimpin Oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan“.
Majapahit menjulang dalam arena sejarah kebangsaan indonesia dan banyak meninggalkan nilai-nilai yang di angkat dalam Nasionalisme Negara Kebangsaan Indonesia 17 Agustus 1945. Kemudian disebabakan oleh faktor keadaan dalam Negeri sendiri seperti perselisihan dan perang saudara, maka sinar kejayaan Majapahit berangsur-angsur mulai memudar dan akhirnya mengalami keruntuhan.
Setelah majapahit runtuh maka bekembanglah agama Islam dengan Pesatnya di Indonesia. Bersaman dengan itu, berkembang pulalah kerajaan islam lainnya seperti Kerajaan Demak, dan mulailah berdatangan Bangsa Eropa di Nusantara. Dengan datangnya bangsa Eropa ke daratan Nusantara untuk mencari pusat tanaman Rempah-Rempah. Namun lama-kelamaan bangsa Eropa tersebut mulai menunjukkan perannya dalam bidang perdagangan yang meningkat menjadi  praktik penjajahan. Ketika bangsa Eropa atau bangsa Belanda dengan V.O.C nya mulai melakukan permainan politiknya dengan licik di Indonesia.
Ketika sejarah mencatat bahwa Belanda berusaha dengan keras untuk memperkuat dan mengintensifkan kekuasaannya di seluruh Indonesia. Melihat praktek-praktek penjajahan Belanda tersebut, maka meledaklah perlawanan rakyat di berbagai Nusantara. Dorongan akan cinta Tanah air menimbulkan semangat untuk melawan penindasan dari bangsa Belanda, namn sekali lagi karena tidak adanya kesatuan dan persatuan diantara mereka dalam perlawanan melawan penjajah, maka perlawanan tersebut senantiasa kandas dan menimbulkan banyak korban. Ketika Belanda menerapkan sistem Monopoli melalui sistem tanam paksa dengan memaksakan kewajiban terhadap rakyat yang tidak berdosa, penderitaan rakyatpun semakin menjadi-jadi dan Belanda tidak peduli lagi dengan penderitaan tersebut.
Pada saat berada di bawah penjajahan Belanda, terjadi pergolakan di penggung politik Internasional denga adanya kebangkitan dunia Timur dengan suatu kesadaran akan kekuatannya sendiri. Di Republik Filipina yang di pelopori oleh Jose Rizal, kemenangan Jepang atas Rusia di Tsunia, gerakan Sun Yat Sen, adapun di Indonesia begolaklah kebangkitan akan kesadaran berbangsa yaitu Kebangkitan Nasional yang dipelopori oleh Dr. Wahidin Surohusodo dengan Budi Utomonya. Gerakan inilah yang merupakan awal gerakan Nasional untuk mewujudkan suatu bangsa yang memiliki kehormatan akan kemerdekaan dan kekuatannya sendiri.
Dengan adanya Budi Utomo sebagai pelopor pergerakan Nasional, sehingga munculah organisasi-organisasi pergerakan lainnya seperti Sarekat Dagang Islam (SDI) yang diganti menjadi gerakan politik dengan nama Sarekat Islam (SI) di bawah H.O.S Cokroaminoto.
Berikutnya munculah Indisce Partij, yang dipimpin oleh tiga serangkai yaitu: Douwes Dekker, Ciptomangunkusumo, Suardi Suryaningrat. Sejak semula partai ini menunjukan keradikalannya, sehingga tidak dapat lama berumur panjang karena pemimpinya dibuang keluar negeri.
Dalam situasi yang menggoncangkan itu, munculah partai nasional indoesia (PNI). Yang di pelopori oleh Soekarno, Ciptomangunkusumo, Sartono, dan tokoh lainnya. Mulailah kini perjuangan nasional Indonesia di titik beratkan pada kesatuan nasional dengan tujuan yang jelas yaitu Indonesia Merdeka. Tujuan itu diekspresikannya dengan kata-kata yang jelas, kemudian diikuti denga tampilnya golongan Pemuda, maka lahirlah Sumpah Pemuda yang isinya Satu Bahas, Satu Bangsa, Dan Satu Tanah Air Indonesia.
Kemudian PNI dibubarkan, dan diganti bentuknya dengan Partai indonesia dengan singkatan Partindo. Kemudian golongan Demokrat antara lain Moh. Hatta dan St. Syahrir mendirikan PNI baru yaitu Pendidikan Nasional Indonesia, dengan semboyan kemerdekaan indonesia harus dicapai dngan kekuatan sendiri.
Janji Belanda tentang Indonesia Merdeka kelak dikemudian hari dalam kenyataannya hanya suatau kebohongan belaka, sehingga tidak pernah manjadi kenyataan. Bahkan sampai akhir pendudukan pada tanggal 10 Maret 1940 kemerdekaan Bangsa Indonesia itu tidak pernah terwujud.
Basis Jepang masuk ke Indonesia dengan Propaganda “Jepang pemimpin Asia, jepang saudara tua Indonesia”. Akan tetapi dalam perang melawan sekutu barat yaitu (Amerika, Inggris, Rusia, Francis, Belanda dan negara sekutu lainnya) nampaknya Jepang semakin terdesak. Oleh karena itu agar mendapat dukungan dari bangsa Indonesia, maka pemerintah Jepang bersikap bermurah hati terhadap bangsa Indonesia, yaitu menjanjikan Indonesia merdeka di kelak kemudian hari.
Pada tanggal 29 April 1945 bersamaan dengan hari ulang tahun Kaisar Jepang, beliau memberikan hadiah “Ulang Tahun” kepada Bangsa Indonesia yaitu janji kedua pemerintah Jepang berupa “Kemerdekaan Tanpa Syarat”. Janji itu disampaikan kepada Bangsa Indonesia seminggu sebelum Bangsa Jepang menyerah, dengan Maklumat Gunseikan (Pembesar Tertinggi Sipil dari Pemerintahan Militer Jepang Di Seluruh Jawa Dan Madura), dalam janji kemerdekaan yang kedua tersebut, Bangsa Indonesia diperkenankan untuk memperjuangkan kemerdekaannya. Bahkan dianjurkan kepada Bangsa Indonesia untuk berani mendirikan Negara Indonesia merdeka dihadapan musuh-musuh Jepang yaitu sekutu termasuk kakitangannya NICA (Netherlands Indie Civil Administrations).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar